Saturday, October 29, 2011

Zaman Edan dan Misteri Kematian Raden Ngabehi Ranggawarsita

" amenangi zaman édan,
 éwuhaya ing pambudi,
 mélu ngédan nora tahan,
 yén tan mélu anglakoni,
 boya keduman mélik,
 kaliren wekasanipun,
 ndilalah kersa Allah,
 begja-begjaning kang lali,
 luwih begja kang éling klawan waspada."

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
" menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila), 
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada. "

Zaman Edan!! istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida. Syair di atas merupakan ungkapan kekesalan hati Raden Ngabei Ronggowarsito kepada pemerintahan Pakubuwono IX pada saat itu yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi.

 
Berbekal sepenggal kisah menarik tentang Raden Ngabei Ronggowarsito yang nama kecilnya Bagus Burham tersebut, serta syairnya yang up 2 date dengan kondisi negeri sekarang ini, saya tertarik menelusuri Misteri Kematian Ranggawarsita dengan mengunjungi makamnya yang berada di Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.
Berikut adalah penelusuran saya: 

Tuesday, October 18, 2011

Menyentuh Langit Deles Klaten. #Part 1

 
Seumur hidupku, baru kali ini aku menginjakkan kaki di Deles, kaki Gunung Merapi.
hmmm.... ternyata cantik sekali, bahkan lebih cantik dari yang aku bayangkan,  Sayang sekali hanya sedikit gambar yg dapat aku tangkap, aku terlambat, sudah terlalu gelap 5:45, awan terlalu kental menggiring bulir air, bahkan sampai kuyup seperti mandi hujan ketika tubuhku menembusnya, segar sekali, dinginnya selimuti kulitku, ya, aku menyentuh langit, aku merabanya, meski tak nyata tapi ada. aku menikmati sentuhan langit,


Menggigil menahan beku, tapi aku masih ingin berlama-lama disini, tubuhku semakin bergetar melawan kuasa alam. 
------------------------------
6:25, mata kameraku tak mungkin lagi mampu menangkap gambar. Aku pulang, dengan satu harapan kembali lagi di sini. Merangkai lebih lengkap lagi keindahan-Mu, menembus awan-Mu, menyentuh langit-Mu.
Allahu Akbar, sungguh agung karya cipta-Mu.