Tuesday, November 29, 2011

Masjid Alit Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten

Ki Ageng Gribig, nama yang tidak asing bagi masyarakat Seputar Klaten, bahkan ketika mendengar nama tersebut ingatan kita akan langsung tertuju pada istilah Yaqowiyu. yaitu acara sebaran apem, nama apem merupakan saduran dari bahasa Arab "Affan", yang bermakna Ampunan. Tujuannya, agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.
Adat kebudayaan ini dikenalkan oleh Ki Ageng Gribig yg nama aslinya Wasibagno Timur atau Syekh Wasihatno, merupakan keturunan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Beliau seorang ulama besar yang memperjuangkan Islam di pulau Jawa, tepatnya di Desa Krajan, Jatinom, Klaten.
Ki Ageng Gribig memiliki jasa besar pada Kerajaan Mataram. Hingga Sultan Agung bermaksud untuk mengangkat Ki Ageng Gribig sebagai Bupati Nayaka. Namun, Ki Ageng Gribig tidak bersedia dan lebih memilih menjadi ulama dari pada jadi pejabat. wooow luar biasa :)
Sebutan Ki Ageng Gribig melekat pada diri beliau konon dikarenakan kesukaan Ki Ageng Gribig tinggal di rumah beratap gribig (anyaman daun nyiur).

 
Mesjid Alit, adalah mesjid pertama yang dibangun di Jatinom, adalah buah tangan Ki Ageng Gribig. Kemudian atas perintah Sultan Agung, Ki Ageng Gribig mendirikan mesjid baru yang jauh lebih besar. Mesjid yang berjarak hanya 100 meter dari Masjid Alit ini diberi nama Mesjid Besar Jatinom.

Perjalan kali ini hanya menyusuri seputar masjid alit, belum sampai pada masjid besar, maupun makam Ki Ageng Gribig, mungkin lain kali sekalian pas ada acara yaqowiyu yach :)
Okay, kita awali dari arah timur.

Jalan menuju Masjid Alit dari arah timur. Berjalan di sepanjang alam yg rindang, bersih dan sejuk, pohon2 tinggi berjajar rapi sajikan udara segar, suguhkan kedamaian, selimuti gundah belenggu gelisah. Sesekali aku menarik nafas dalam2 mencoba mencumbui kuasa-Nya, Anugerah illahi yang sering terabaikan, untuk setiap detik udara yang terhirup, tiap kalikah aku bersyukur atau sekadar mengucapkan terimakasih. Aku tertunduk, batapa seringnya terlupa.



Masjid Alit juga sering disebut masjid tiban, di masjid inilah beliau bersujud dihadapan-Nya, masjid Alit merupakan masjid pertama yang beliau dirikan di Jatinom, Klaten. Beberpa waktu kemudian Sultan Agung memberikan perintah kepada Ki Ageng Gribig untuk mendirikan masjid baru yang lebih besar. Masjid baru yang lebih besar dan diberi nama Masjid Besar Jatinom.


Dilihat dari atas, bangunan masjid tua tersebut memang memiliki posisi yang strategis, karena disamping kanan  masjid terdapat jalur sungai yang cukup besar dengan bebatuan besar, disamping kiri terdapat sumber air suran, yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat bersuci.




Sumber air suran berasal dari istilah sur-suran disebut demikian karena merupakan sumber air yang tidak pernah berhenti memberikan air yang melimpah.




Di samping sumber suran terdapat gerbang tua menuju gua suran, gerbang ini sempat menyita perhatianku, aku terhenti beberapa waktu merasakan keberadaan gerbang dengan anak tangga yang terbuat dari batu kali, ditata sedemikian rapi. Keindahan alami. Subhanallah.


Gua suran, ditempat ini Ki Ageng Gribig melakukan semedi, gua ini tidak terlalu dalam, lebarnya juga hanya seukuran tubuh manusia, tingginya kurang lebih satu meter, sehingga harus menunduk ketika hendak memasukinya. Ketika bersemedi, ular dan macan  menjadi penjaga beliau.
Disebutkan salah satu kesaktian Ki Ageng Gribig adalah kemampuan beliau melakukan perjalanan dari tempat tinggal Beliau di Jatinom ke Makkah Al-Mukarrromah hanya dalam waktu singkat, bak orang melempar batu, sehingga setiap hari beliau dapat pergi ke tanah suci dan kembali ke kampungnya setiap hari. Suatu hal yang mustahil di zaman itu dan saat ini.




Ular penjaga pintu gua suran, melihat bentuknya yang besar dan memakai mahkota, menurutku ini adalah sebuah ular naga, berada tepat di bawah pohon besar melingkar dengan kepala mendungak, terlihat selalu waspada.




Macan panjaga pintu gua suran, letaknya bersebalahan dengan ular tadi, sama-sama dibawah pohon besar, sama-sama waspada, bahkan terlihat sedang menyeringai.


Macan penjaga gua ternyata tidak sendirian, mereka terlihat berpasangan, kalo gag salah, nama pasangan macan tersebut adalah Nyai Kopek, (kalo salah mohon konfirmasinya ya :D)


Wkwkwkwk....  NARSONG.!!! 
Sebenarnya bukan itu tujuan saya menampikan foto saya disini. Saya hanya ingin menggambarkan bahwa suasana disini tidaklah se-angker yang mungkin Anda bayangkan, Udaranya segar, suasananya sejuk, alur sungai dengan batu2 besar menjadi daya tarik tersendiri, sayangnya pas kesini air sungai hanya sedikit, namun sudah cukup asik buat bermain-main air dan berbasah-basahan disepanjang aliran sungai ini dan sesekali istirahat duduk-duduk diatas batu-batu besaaarrr. wowww... sangaat menyenangkaan :D


Saya yakin, bila dikelola dengan baik, Obyek wisata Ki Ageng Gribig ini akan mendatangkan banyak kemanfaatan, baik bagi masyarakat sekitar maupun bagi pemerintahan daerah. Apalagi setiap tahun ada Agenda yang cukup kondang yaitu Yaqowiyu. Semoga.

 Tetap Bersemangatlah Membangun Klatenku Tercinta. <3

22 comments:

  1. Info yang menarik. Ternyata di Klaten juga ada makam Ki Ageng Gribig, beberapa tahun yang lalu saya pernah ke makam Gribig, tetapi lokasinya di Malang...
    Kalau pulang Jogja, pingin mampir ah..tempatnya kelihatan ademm..

    ReplyDelete
    Replies
    1. monggo silakan mampir mas Krish ^_^

      Delete
    2. mohon petunjuk kalau dari sidaorjo naik bis turun mana ? kemudian naik apa lagi untuk menuju makam syeh gribig, matur nuwun

      Delete
  2. Klaten memang kaya budaya ya...salam kenal gan!!!

    ReplyDelete
  3. Muro'i El-Barezy : Salam kenal mas Muro. terimakasih apresiasinya

    ReplyDelete
  4. Pak Bambang: Terimakasih pak, monggo silahkan mampir, adem dan ayem. Salam sedulur Klaten.

    ReplyDelete
  5. Mas Ari: kesannya aja khan mas, tapi udaranya sedjuuuk banget mas, dijamin sampai disana bakalan betah :D

    ReplyDelete
  6. mas ijin share utk asal usul kata apem itu ya. makasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yak, monggo Dan Sapar.
      Kalo ada waktu luang silakan mampir di sini ya...
      Udaranya masih segar alami :D
      Salam Sedulur Klaten

      Delete
  7. weeeewww...asik bgt tuh kaya'a..apalagi buat ngilangin penat..
    mantaaaap..kpan" ksna aaah..hehehe

    http://www.elindocard.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, cocok banget mas, monggo silakan mampir di Klaten

      Delete
  8. kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semoga Klaten tetap selalu amanah, maturnuwun mas Hasan

      Delete
  9. Masjid Alit-nya ngga terawat, sayang sekali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas AMruly, tapi masih sering dipakai buat sholat juga kok, mongo mampir Klaten

      Delete
  10. Ada lagi masjid tiban di Klaten, tepatnya di pusarnya Klaten yaitu kampung skolekan, dimana dimakamkan pendiri Klaten Kyai Mlati Skolekan. Bangunan masjid katanya dari Joglo Kuno dengan diameter Soko 30 Cm dari kayu utuh, kami tunggu reportasenya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah menarik sekali masjid di dekat makam Kyai Mlati, inshaallah kapan2 kita kesana mas Agus, maturnuwun nggih informasinipun, salam Bersinar

      Delete
  11. @ admin
    klo boleh tau anak'y ki ageng gribig ada berapa ya?
    soal'y kata bapak dan kakekq,keluarga kami masih ada keturunan dari ki ageng gribig.
    cerita dari bapak dan kakekq.putri ke-3 ki ageng gribig menikah dengan anak dari ki ageng pengging trus muncul silsilah keluarga kami...
    sampai sekarang saya hanya tau dari silsilah pengging, klo yag dari ki angen gribik belum jelas sekali.. jadi minta tolong di jelaskan tentag anak keturunannya ki ageng gribik..
    saya tinggal di karanganom tepatnya di pondok..


    trimakasih....

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh, saya juga kurang paham mas Andre, coba nt kalo main ke Jatinom saya coba telusuri silsilahnya ya, maturnuwun mas Andre

      Delete
  12. jadi kangen kesana, kebetulan rumah sy dulu tepat diatas sungai jatinom, ya skitar 10 menit dr masjid alit. foto trsbut sdh tampak berbeda, dulu patung macan masih berdiri gagah dan belum diapit dengan pohon itu. tapi sy brsyukur peninggalan Ki Ageng Gribig masih ada smpe skrg, mskipun kondisinya sdh memprihatinkan. harusnya pemerintah kec maupun pemda memberikan perhatin trhadap situs bersejarah tsbt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, semoga mendapat perhatian dari pemerintah setempat, terimakasih sudah mampir pak, pasti pingin dolan kesini ya, hehe kapan2 mampir ke Klaten yaa

      Delete